Taman Semalem

Taman Semalem

Minggu, Januari 15, 2012

BUDIDAYA KARET DENGAN POLA TANAM GANDA UNTUK MENINGKATKAN HASIL PRODUKSI KARET (Hevia brasiliensis Muel Arg)


BUDIDAYA KARET DENGAN POLA TANAM GANDA UNTUK MENINGKATKAN HASIL PRODUKSI KARET (Hevia brasiliensis Muel Arg)

Hasil laporan PKL 
 Muhammad Alqamari
Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

ABSTRAK
            Produksi karet Indonesia sangatlah rendah maka dari itu diperlukan teknologi kultur teknis dilapangan untuk meningkatkan produksi karet sehingga dapat meningkatkan kesejateraan petani karet. Pada umumnya pola tanam yang digunakan oleh petani yaitu pohon setiap hektarnya tidak melebihi dari jumlah 400 sampai dengan 500 pohon. Hal itu berarti jarak tanamnya perhektar adalah 7x3 m, 7, 14x 3, 33 m atau 8x2,5 m. Tapi dengan pola tanam ini produksi karet kurang memuaskan sehingga produksi lateks sangat rendah. Dengan system  pola tanam ganda dapat meningkatkan produksi karet yang cukup mencolok dibandingkan dengan menanam karet dengan system biasa. Berdasarkan hasil produksi tanaman karet  dapat diketahui bahwa produksi karet dengan mengunakan tehnik pola tanam ganda dapat meningkatkan produksi yaitu pada tahun tanam 1996 dengan tahun produsi pada afdeling  III dengan klon yang sama yaitu PB 260 dari tahun ketahun mengalami peningkatan sebesar 25 – 50 % . selain itu juga dapat meningkatkan produksi kayu untuk industri mebel untuk memenuhi kebutuhan imfor kayu.
Kata kunci: produksi, karet, tehnik.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman karet atau Heve brasiliensis Muel Arg. Termasuk kedalam family Euphorbiaceae. Tanaman karet ini berasal dari lembah Amazone Brasilia di Amerika Selatan. Tanaman ini dimasukkan ke Indonesia pada abad ke 19 yaitu tahun 1876 (Sianturi, 1992).
Pada permulaan abad 20 untuk pertama kalinya tanaman karet ditemukan di Brasil dan sejak itu telah dikembangkan menjadi salah satu bahan baku yang sangat penting bagi keperluan industriri otomotip, keperluan rumah tangga dan alat-alat kesehatan. Dalam perkembangannya tanaman karet tersebut tidak saja dibudidayakan di Brasil melainkan juga telah ditanam dan dikembangkan di Indonesia, Malaysia dan Thailand dalam bentuk perkebunan besar yang melibatkan tenaga kerja yang cukup besar.
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun 2004. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas.
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai angka sekitar 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani dan lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet. Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.
Perkebunan karet di Indonesia masih didominasi oleh perkebunan rakyat yang mencakup areal sekitar 2,80 juta ha atau 85% dari total areal perkebunan karet seluas 3,30 juta ha. Dari luasan tersebut, perkebunan rakyat memberikan kontribusi sekitar 1,20 juta ton atau 76% dari total produksi karet alam nasional sebesar 1,60 juta ton pada tahun 2002 (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan 2002). Secara umum permasalahan utama dalam perkebunan karet rakyat adalah produktivitas yang rendah, hanya sekitar 610 kg/ha/tahun, padahal produktivitas perkebunan besar negara atau swasta masing-masing mencapai 1.107 kg dan 1.190 kg/ha/tahun (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan 2002). Rendahnya produktivitas karet rakyat tersebut antara lain disebabkan oleh luasnya areal karet yang menggunakan bahan tanam nonunggul (seedling).
Selain itu juga produktivitas satuan luas dipengaruhi oleh jarak tanam dan kerapatan tanaman, disamping faktor-faktor yang lainya. Jarak yang lebih sempit akan berdampak negative dengan beberapa kelemahannya. Beberapa kerusakan yang akan terjadi akibat jarak yang lebih sempit adalah: Kerusakan mahkota tajuk oleh angin Kematian pohon karena penyakit menjadi lebih tinggi Tercapainya lilit batang sadap lebih lambat Hasil getahnya akan berkurang Oleh sebab itu, dalam melakukan penanaman, sangat tidak dianjurkan terlalu rapat jarak antara satu pohon dengan pohon yang lainnya
Usaha peningkatan produktivitas tanaman karet baik pada tingkat perusahaan swasta maupun secara nasional, harus dilaksanakan dengan menanam klon-klon unggulan terbaru pada saat penanaman baru ataupun pada saat peremajaan. Klon adalah keturunan yang diperoleh secara pembiakab vegetatif suatu tanaman. sehingga, cirri-ciri darti tanaman tersebut sama persis dengan tanaman induknya.. Klon-klon anjuran yang dianjurkan untuk digunakan pada saat okulasi maupun penanaman bibit unggul adalah bahan tanaman karet. Adapun bahan tanaman yang dianjurkan adalah: Klon GT1, Klon PR 107, Klon PR 228, Klon PR 261, Klon PR 300, Klon PR 255, Klon PR 303, Klon AVROS 2037, Klon BPMI.
REKOMENDASI KLON KARET oleh asosiasi penelitian dan nperkebunan Indonesia padfa tahun 2000 adalah sebagai berikut: Sistem rekomendasi klon karet 1999-2001, disesuaikan dengan undang-undang no 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman. Rekomendasi klon unggulan dikelompokan menjadsi dua, yaitu: Kelompok klon anjuran komersil Kelompok klon anjuran harapan Kon anjuran komeresil dibagi menjai 3 yaitu: Klon penghasil lateks Klon penghasil lateks-kayu Klon penghasil kayu Sedangkan klon anjuran harapan terdiri dari beberapa klon yaitu: IRR 2, IRR5, IRR13, IRR17, IRR21, IRR24, IRR41, IRR42, IRR54, IRR1OO, IRR104, IRR105, IRR107, IRR111 dan IRR 118. Selain klon yang digunakan juga kultur teknis juga perlu mendapat perhatian.
Luas lahan karet yang dimiliki Indonesia mencapai 2,7 – 3 juta hektar. Ini merupakan lahan karet terluas di dudia. Areal perkebunan karet Malaysia dan Thailand masih di bawah jumlah tersebut. Sayangnya, perkebunan karet yang luas ini tidak diimbangi dengan produktivitas yang memuaskan (Tim penulis PS, 2007). Salah satu penyebab rendahnya produksi karet alam Indonesia adalah penanaman klon unggul yang tidak diimbangi dengan kultur tehnik yang baik, termasuk kurangnya perhatian penanggulangan gulma dan penyakit tanaman.
Selain fungsi produksi, tanaman karet mempunyai pengaruh yang baik terhadap tanah, tanaman ini dapat mencegah erosi dan tanah lonsor. Selain itu, daunnya yang berguguran dapat membentuk humus hingga dapat menyuburkan tanah (Setiawan, 1992).
Tanaman karet juga memberikan kontribusi yang sangat penting dalam pelestarian lingkungan. Upaya pelestarian lingkungan akhir-akhir ini menjadi isu penting mengingat kondisi sebagian besar hutan alam makin memprihatinkan. Pada tanaman karet, energi yang dihasilkan seperti oksigen, kayu, dan biomassa dapat digunakan untuk mendukung fungsi perbaikan lingkungan seperti rehabilitasi lahan, pencegahan erosi dan banjir, pengaturan tata guna air bagi tanaman lain, dan menciptakan iklim yang sehat dan bebas polusi. Pada daerah kritis, daun karet yang gugur mampu menyuburkan tanah. Daur hidup tanaman karet yang demikian akan terus berputar dan berulang selama satu siklus tanaman karet paling tidak selama 30 tahun. Oleh karena itu, keberadaan pertanaman karet sangat strategis bagi kelangsungan kehidupan, karena mampu berperan sebagai penyimpan dan sumber energi (Indraty 2005). Hal senadan dikemukakan oleh Azwar et al. (1989), bahwa laju pertumbuhan biomassa rata-rata tanaman karet pada umur 3−5 tahun mencapai 35,50 ton bahan kering/ha/tahun. Hal ini berarti perkebunan karet dapat mengambil alih fungsi hutan yang berperan penting dalam pengaturan tata guna air dan mengurangi peningkatan pemanasan bumi (global warming).
Potensi kayu karet untuk diolah sebagai bahan baku industri cukup besar. Sampai saat ini kebutuhan kayu sebagian besar masih dipenuhi dari hutan alam. Persediaan kayu dari hutan alam setiap tahun semakin berkurang, baik dari segi mutu maupun volumenya. Hal ini disebabkan kecepatan pemanenan yang tidak seimbang dengan kecepatan penanaman, sehingga tekanan terhadap hutan alam makin besar. Di sisi lain kebutuhan kayu untuk bahan baku industri semakin meningkat, hal ini berarti pasokan bahan baku pada industri perkayuan semakin sulit, kalau hanya mengandalkan kayu yang berasal dari hutan alam, terutama setelah kayu ramin, meranti putih, dan agathis dilarang untuk diekspor dalam bentuk kayu gergajian. Kondisi ini perlu ditanggulangi sedini mungkin agar tidak terjadi kesenjangan antara potensi pasokan kayu hutan dengan besarnya kebutuhan kayu. Usaha untuk memenuhi permintaan kayu tersebut dapat dipenuhi melalui pengusahaan hutan produksi, seperti pembangunan hutan tanaman industri, walaupun hasilnya belum memuaskan. Oleh karena itu perlu dicari jenis kayu substitusi yang dapat memenuhi persyaratan untuk berbagai keperluan. Kayu karet yang dihasilkan dari perkebunan karet merupakan alternatif yang dapat dipertimbangkan. Perkebunan karet di Indonesia cukup luas dan sebagian sudah waktunya diremajakan (Lokakarya HTI, 1989).
Permintaan kayu di pasar internasional diperkirakan semakin meningkat sebagai akibat perkembangan penduduk dunia yang semakin pesat dan kecenderungan membaiknya kondisi perekonomian berbagai negara saat ini. Sementara itu kebutuhan di dalam negeri dewasa ini mencapai 58 juta m3 per tahun, sedangkan total produksi kayu hanya 52 juta m3 per tahun, berarti terjadi kekurangan pasokan sekitar 6 juta m3 (Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan, 1999 dalam Nancy, dkk., 2001). Sedangkan di sisi lain potensi kayu hutan yang tersedia makin terbatas. Untuk mengisi pangsa pasar tersebut, kayu karet dapat digunakan sebagai substitusi kayu alam.

Perumusan Masalah
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi rendahnya  produktifitas adalah jumlah pohon yang dapat dipanen perhektar. Pada umumnya tanaman karet yang berumur > 15 tahun, jumlah tegakannya < 300 pohon/ha bahkan banyak yang sudah < 200 pohon/ha akibat tumbangnya pohon karet akibat yang ditimbulkan oleh angin yang menumbangkan pohon-pohon karet
Dengan pola tanam ganda dapat meningkatkan produksi karet dan dapat  mengefisiensikan  pengunaan lahan sehingga populasi awal tegakan ditingkatkan dari 555 pohon menjadi 780 pohon perhektar. Selain itu juga  pola tanam ganda dapat menekan robohnya pohon karet akibat angin.
Selain itu juga Potensi pasokan kayu sebagai bahan baku industri perkayuan yang berasal dari hutan alam semakin berkurang baik dari segi mutu maupun volumenya. Dengan berkembangnya teknologi pengolahan dan pengawetan kayu karet, pemanfaatan kayu karet saat ini semakin meluas sehingga kebutuhan bahan baku dari kayu karet semakin meningkat.

Tujuan
            Dengan menanam karet dengan pola tanam ganda pada budidaya karet diharapkan akan dapat memberikan  peningkatan produksi tanaman karet sehinga  dapat meningkatkan produksi karet dan dapat memberikan kesejateraan petani karet selain itu juga dengan pola tanam ganda dapat mengantikan peran hutan yang banyak yang gundul.

HASIL
            Produksi karet dapat dilihat pada tabel I dimana produksi lebih tinggi bilah tanaman karet ditanam dengan pola ganda.
Tabel.1. Perbandingan produktifitas pola tanam ganda vs tanaman biasa tahun tanam 1996 (kg/ha) adalah sebagai berikut :

Tahun
             Pola Tanam Ganda Tiga                         Tanaman biasa
IV/PB 260
III/PB 260
III/BPM 1
III/PB 260
2001
136
274
230
202
2002
1.234
1.421
946
661
2003
1.698
1.928
1.351
1.042
2004
2.198
2.110
2.000
1.709
2005
1.962
1.985
2.140
1.709
2006
2.532
2.497
2.444
2.031
2007(s/d mart)
510
484
533
375
Sumber : PT Perkebunan Nusantara III Kebun Rambutan
PEMBAHASAN
Luas areal
Pola tanam ganda tiga (3) di PTP. Nusantara III kebun Rambutan seluas 129,45 ha dengan rincian :
Afdiling
Tahun Tanam
Klon
Luas (ha)
IV
1996
PB 360
49.95
III
1996
PB 360
49.00
III
1996
BPM 1
30.95

Penanaman
            Sebagai tanaman yang berasaif, tetap produksl dari wilayah Amerika tropis, karet biasa tumbuh di Indonesia yang juga beriiklim tropis, meskinpun demikian agar berproduksi secara maksimal karet membutuhkan kondisi-kondisi tertentu tyang merupakan syarat hidupnya. Jika kondisi tertentu tidak terpenuhi tanaman karet bisa saja tetap tumbuh, tetapi pertumbuhannya lambat. Tanaman bisa menjadi kerdil dan kurus dengan percabangan banyak. Lebih buruk lagi, produksi lateksnya rendah sehingga secara ekonomis tidak menguntungkan. Meskipun dilakukan perawatan secara intensif, tetap saja prouktifitasnya rendah.
            Agar produktifitasnya tinggi karet sangat bagus jika dibudidayakan ditanah yang subur selain itu juga pola tanam dilapangan juga sangat menetuhkan produktifitas karet.
Kultur teknis  di lapangan secara umum tidak ada perbedaan antara pola tanam ganda dengan pola tanam biasa. Letak perbedaannya hanya jumlah pohon per hektar dengan pengaturan jarak tanam sebagai berikut :
uraian
Pola ganda
Pola biasa
Jarak tanam
7.692 x 5
5 x 3.33
Pohon/ha
780
600
Sistem penanaman
Rumpun tiga
Tidak berumpun
Persiapan lahan
Mekanis
Mekanis/khemis

Pemancangan jarak tanam 7,692 x 5 m, hanya merupakan titik sumbu dan sebagai pedoman dalam penentuan letak dan lubang tanam. Penanaman dengan pola tanam ganda tiga, diatur berbentuk segitiga sama sisi disetiap rumpun dengan panjang sisi 1,5 meter. Pengaturan arah (puncak) segi tiga antara barisan yang satu dengan yang lainnya harus berlawanan.
Produktifitivitas
Hasil pengamatan produksi tanaman karet dengan pola tanam ganda menunjukan hasil perbedaan yang menyolok antara pola tanam ganda dengan pola tanam biasa, ini dapat dilihat pada tabel 1 . perbedaan ini disebabkan karena jumlah pohon yang ditanam pada lahan lebih banyak serta di pengaruhi oleh jarak tanam.
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi tingginya produktifitas adalah jumlah pohon yang dapat dipanen perhektar. Pada umumnya tanaman karet yang berumur > 15 tahun, jumlah tegakannya < 300 pohon/ha bahkan banyak yang sudah < 200 pohon/ha. Dengan pola tanam ganda dalam rangka peningkatan efisiensi pengunaan lahan populasi awal tegakan ditingkatkan dari 555 pohon menjadi 780 pohon perhektar . Dengan cara ini diharapkan pada umur > 15 tahun , tegakan masih bertahan 400 pohon per hektar sehingga produksi per hektar dapat bertahan dan hasil kayu dapat diperoleh secara optimal.
Tujuan utama budi daya karet adalah untuk mendapatkan lateks yang berasal dari getahnya. Namun, dalam perkembangannya kayu atau batang karet ternyata juga memiliki manfaat, sehingga bernilai ekonomi cukup tinggi kayu karet yang sudah berumur 20 – 30 tahun bisa ditebang untuk dimanfaatkan dalam pembuatan rubber smoked sheet, bahan kertas dan kayu untuk pertukangan. Laju permintaan kayu karet untuk pembuatan kertas, kayu energi (bahan bakar), dan kayu untuk pertukangan cendrung meningkat dari tahun ketahun.
Perkembangan Teknologi Industri pengelohan kayu telah mengubah perdangan terhadap tanaman karet. Budidaya karet tidak lagi dipandang sebagai penghasil lateks saja tetapi sekaligus penghasil kayu untuk keperluan meubel dan kebutuhan bangunan. Diharapkan dengan sistem tanam ganda dapat meningkatkan produksi karet dan pohon karet untuk penghasil kayu.
Pada tahun 2020 mendatang permintaan kayu karet untuk bahan pembuatan kertas dan kayu energi diperkirakan sebanyak 237,425 juta meter3dan penawaran 74,425 juta meter3, sehingga terjadi kekurangan pasokan 163 juta meter3. Sementara itu, untuk kayu pertukangan permintaan kayu karet pda tahun 2020 diperkirakan mencapai 94,425 juta meter3 dengan penawaran sebesar 88,643 juta meter3 dengan penawaran sehingga kekurangannya sebesar 5,782 juta meer3 (Setiawan dan Andoko, 2006).
Melihat besarnya permintaan dan kemapuan menyediakan sehinggga terjadi kekurangan pasokan tersebut, berarti usaha budidaya karet memang memberi harapan besar di luar produksi lateksnya. Karena pada akhirnya masa produksi lateksnya tanaman ini akan dipanen kayunya. Sejak awal harus diperhatikan bibitnya dan pola tanam yaitu yang bisa menghasilkan lateks dan batang yang lurus dan besar dan menanam dengan pola tanam ganda.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian didapat bahwa pola tanam ganda dapat meningkatkan produksi karet dan dapat menjaga jumlah pohon karet akibat tiupan angin sehingga dapat meningkatkan hasil dan pendapatan. Selain itu juga bibit yang digunakan dalam menanam karet haruslah mengunakan klon-klon yang unggul yang telah dianjurkan oleh pemerentah. Pohon karet juga dapat bermanfaat  mengantikan peran hutan yang sudah banyak gundul akibat tangan manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Aonimus, 1995. Budidayat Karet. Penebar Swadaya. Jakarta
Anwar. C, 2001. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian   Karet. Medan.
Lokakarya HTI. 1989. Hasil perumusan Lokakarya Nasional HTI karet. Pros. Lok. Nas. HTI Karet, Medan.

Nancy, C., G. Wibawa, M. Lasminingsih. 2001. Potensi Pemanfaatan Kayu dalam Kegiatan Peremajaan Karet. Tinjauan Komoditas Perkebunan, Vol. 2, No. 1, Maret 2001. APPI dan Ditjenbun.
Tim Penulis PS, 2007. Karet. Penebar swadaya.Jakarta.
Setiawan , I. A, 1992. Penghijauan dengan Tanaman Pontesial. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar