Taman Semalem

Taman Semalem

Minggu, Januari 15, 2012

TEKNIK PENANAMAN KELAPA SAWIT DENGAN LUBANG BESAR DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq)


TEKNIK PENANAMAN KELAPA SAWIT DENGAN LUBANG BESAR  DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq)


Hasil Laporan PKL
Muhammad Alqamari
Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiya Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di PTPN 3 Kebun Rambutan pada bulan Agustus 2007, yaitu pada kegiatan praktek kerja lapangan. Kelapa sawit merupakan komoditi ungulan non-migas bagi pemerintah Indonesia. Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit diperlukan pola tanam yang dapat meningkatkan produksi kelapa sawit yaitu dengan teknik penanaman kelapa sawit dengan lubang besar dan juga pemberian tandan kosong kelapa sawit. Yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal dari Amerika. Brazil dipercaya sebagai tempat di mana pertama kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya, tanaman ini menyebar ke Afrika, Amerika Equatorial, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan. Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera sebagai induk jantan. Hasil persilangan tersebut memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Varietas unggul hasil persilangan antara lain: Dura Deli Marihat (keturunan 434B x 34C; 425B x 435B; 34C x 43C), Dura Deli D. Sinumbah, Pabatu, Bah Jambi, Tinjowan, D. Ilir (keturunan 533 x 533; 544 x 571), Dura Dumpy Pabatu, Dura Deli G. Bayu dan G Malayu (berasal dari Kebun Seleksi G. Bayu dan G. Melayu), Pisifera D. Sinumbah dan Bah Jambi (berasal dari Yangambi), Pisifera Marihat (berasal dari Kamerun), Pisifera SP 540T (berasal dari Kongo dan ditanam di Sei Pancur).
Kata kunci : lubang besar, kelapa sawit, produksi

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) diusahakan secara komersial di Afrika, Amerika Selatan, Asia Tenggara, Pasifik Selatan, serta beberapa daerah lain dengan skala yang lebih kecil. Tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika dan Amerika Selatan, tepatnya Brasilia. Di Brasilia, tanaman ini dapat ditemukan tumbuh secara liar atau setengah liar di sepanjang tepi sungai (Pahan, 2007).
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia, namun proyeksi ke depan memperkirakan bahwa pada tahun 2009 Indonesia akan menempati posisi pertama (Anonim, 2008). Sedangkan menurut Ginting (1975), kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah salah satu dari palma yang menghasilkan lemak untuk tujuan komersil. Minyak sawit ini diperoleh dari pericarp (daging buah) dan dari inti biji yang disebut minyak inti sawit. Dari sekian banyak tanaman penghasil lemak atau minyak, kelapa sawit memberikan hasil terbanyak dan memiliki kadar kolestrol yang rendah.
Perkebunan kelapa sawit salah satu agribisnis yang cukup besar dan mempunyai pasar yang sangat baik di dunia karena hasil produksinya merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat (minyak makan). Perkebunan kelapa sawit Indonesia merupakan perkebunan nomor dua besar di Asia setelah Malaysia. Produksi sawit Asia merupakan terbesar di dunia dan sebagian besar dikelola oleh PTPN maupun swasta, bahkan banyak juga kebun masyarakat dan perkebunan sawit ini telah mulai lebih kurang dua puluh lima tahun yang lalu, mulai dari bibit sawit sampai kepada pabrik minyak (Darmawansyah,2008)
Akar tanaman kelapa sawit menyebar secara vertikal dn horizontal mengikuti perkembangan umur tanaman. Penyebaran akar tanaman umumnya dapat mencapai kedalaman 1-2 cm pada tanah bertektur pasir dapat mencapai kedalaman 5 m (4). Perkembangan akar pada dasarnya ditentuhkan oleh dua faktor yaitu energi yang tersedia dalam tubuh tanaman dan keadaan lingkungan tempat tumbuhnya. Besar kecilnya fotosintesis dan repirasi menentuhkan faktor kedua meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Perkembangan akar sangat  menentuhkan kemampuan tanaman dalam penyerapan hara didalam tanah. Khususnya akar tersier dan kwanter yang berperan aktif dalam penyerapan hara yang yang disebut feeding roots. Diameter akar tersier umumnya kurang lebih 0,2-1,2 mm. Dengan mangkin lebarnya ruang garak perakaran berarti akar memberikan  kemungkinan yang lebih besar kepada akar untuk mendapatkan hara dalam tanah.
Penanaman kelapa sawit pada tanah mineral biasanya merupakan lubang tanam dengan cm ukuran panjang 60 cm x lebar 60 cm x kedalaman 60 cm. Dengan sistem ini tampaknya perkembangan akar kurang bebas jika struktur tanah gembur maka n dapatperkembangan akar akan cukup bebas dn dapat mencapai kedalaman yang cukup dalam. Dan untuk mengatasi tanah yang pejal maka dilakukan sistem tanam dengan lubange besar dengan ukuran 1. Ukuran lubang biasa : (0,6 x 0,6 x 0,6) m, 2. Ukuran lubang besar : lubang I : (3,6 x 3,6 x 0,5) m, lubang II: (1,2 x 1,2 x 1,2) m 3. Ukuran lubang besar modifikasi: lubang I: (2,8 x 2,8 x 0,3 ) m lubang II:  (0,8 x 0,8 x 0,8) m atau lubang tanam dibuat dengan lubang I: (1,8 x 1,8 x 0,3) m dan lubang II: (0,8 x 0,8 x 0,8). Dengan penambahan tandan kosong kelapa sawit (TKS) disertai dengan pupuk dapat meningkatkan produksi kelapa sawit.
Kemampuan lahan dalam penyediaan unsur hara secara terus-menerus bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit yang berumur panjang sangatlah terbatas. Kertebatasan daya dukung lahan dalam penyediaan hara harus diimbangi dengan penambahan unsur hara melalui pemupukan.
            Usaha meningkatkan produksi kelapa sawit di Indonesia dapat dilakukan dengan berbagai usaha, baik intensifikasi maupun ekstensifikasi. Dalam hal ini pembibitan merupakan usaha permulaan keberhasilan tanaman, bibit yang dikelola dengan baik diharapkan akan mganebannghasilkan pertumbuhan bibit yang baik, sehat dan berproduksi tinggi. Bibit yang sehat akan mempunyai perakaran tanaman yang baik dan kuat yang dapat mengambil unsur hara tanaman dari dalam tanah dengan baik pula. Untuk ketersedian unsur hara di dalam tanah, maka perlu dilakukan pemupukan dengan dosis dan cara pemberian yang tepat (Rinsema, 1988).
Selain itu juga usaha meningkatkan produksi kelapa sawit di Indonesia dapat dilakukan dengan berbagai usaha, baik intensifikasi maupun ekstensifikasi. Dalam hal ini teknik penanaman kelapa sawit dari awal penanaman juga sangat mempengaruhi hasil produksi kelapa sawit. Selain itu pemberian tandan kosong sawit (TKS)  juga sangat mempengaruhi produksi kelapa sawit hal ini menurut Darmasarkoro, et al (2000) meneliti pengaruh TKS terhadap sifat tanah, dan pertumbuhan tanaman jagung mendapatkan bahwa pemberian TKS dapat meningkatkan kesuburan tanah yaitu meningkatkan pH,K, Mg dapat dipertukarkan dan KTK tanah.
Selain itu juga menurut (Darmosarkoro, et al, 2000). Tandan kosong sawit TKS merupakan bahan organik yang pontesial digunakan sebagai bahan pembenah tanah, baik sebagai bahan kasar pembuatan kompos maupun ditinjau dari jumlahnya yang banyak. Sedangkan menurut Herawan, et al (1999). TKS mengandung : 0,029% P; 2,91% K; 0,62% Ca; 0,48% Mg; 32,77% C; 2,04% N, C/N 16,06 kadar air 52%. Selain itu juga Ia menambahkan TKS merupakan bahan organic yang pontesial digunakan sebagai bahan pembenah tanah, baik sebagai bahan kasar pembuatan kompos maupun ditinjau dari jumlahnya yang banyak.
Tanah yang diaplikasikan  TKS dapat meningkatkan Ph tanah dari 5,79 menjadi 6,63 bila diberi TKS. TKS juga dapat meningkatkan kadar C organik tanah,TKS juga dapat meningkatkan kadar N total tanah, peningkatan tertinggi terjadi bihainasi la dikombinasikan hanya dengan 50% pupuk standar (pupuk anorganik), meningkatkan kadar K tukar tanah ( Munar, 2006).
Perumusan Masalah
            Kelapa sawit merupa komoditi andalan indonesia untuk meningkatkan devisa nonmigas. Produksi kelapa swit yang sekarang diproduksi kurang maksimal bila dimandingkan dengan negara tetangga terutama malaysia. Ini disebabkan budidaya penanaman kelapa sawit kurang diperhatikan. Pola tanam kelapa sawit yang selama ini dilakukan dengan menanam pada lubang kecil dan tanpa pemberian pupuk organik. Selain itu penanaman kelapa sawit dengan lubang biasa produktifitasnya lama hingga 36 bulan.
            Hilangnya pupuk yang diberikan sering kali hilang karena terbawah air dengan teknik penanaman dengan lubang besar, daerah tebar pupuk tersedia, sehingga kehilangan pupuk relatif lebih kecil. Kelapa sawit merupakan tanaman yang memerukan air yang banyak  untuk menjaga ketersedian air, tandan kosong sawit mampu menyerap air.
Tujuan 
            Dengan  teknik lubang besar deharapkan mampu meningkatkan produksi dan memperpendek masa tanaman belum menghasilkan (TBM) dari 36 bulan menjadi 24 bulan, sehingga akan mengurangi masa investasi.

Hasil Penelitian
Tabel 1. Produktivitas kelapa sawit dengan lubang besar
Tahun
Produktivitas (Kg/ha)
1999
9.676
2000
15.838
2001
19.818
2002
21.673
2003
25.266
2004
24.185
2005
26.767
2006
24.762
2007 (RKAP)
27.000
 Sumber. PTPN3 Kebun Rambutan Tebing Tinggi

Grafik Perbandingan Produktifitas (Kg/ha) Pola Tanam
Lubang besar VS Lubang Bi
















Sumber. PTPN3Kebun Rambutan Tebing Tinggi



Pembahasan

Pembukaan lahan (Land Clearing) adalah tahapan kegiatan awal dalam usaha perkebunan kelapa sawit. Sebelum perkerjaan Land Clearing dilaksanakan , semua areal baik TB, TU dan TK terlebih dahulu dilaksanakan survai pendahuluan berupa ritisan pengukuran areal, situasi vegetasi dan tofografi lahan. Dari hasil survai pendahuluan akan dapat dipakai sebagai dasar untuk penyesuaian jadwal kerja, persiapan kebutuhan alat/bahan maupun biaya operasionalnya. Jenis vegetasi diklasifikasikan berupa hutan primer, sekunder, semak belukar dan lalang.
            Land Clearing sebenarnya bertujuan untk membersihkan areal semaksimalnya, sehingga cara yang lebih muda dan murah biaya setelah penumbangan akan dibakar sampai menjadi abu. Akan tetapi segala jenis pembakaran dilarang keras oleh pemeretah sesuai dengan surat keputusan Dirjen. Perkebunan Nomor :P 38/KB.110/SK/DJ.Bun/05.95, yang harus dipenuhi oleh setiap perusahaan dan masyrakat.
Luas areal penanaman kelapa sawit dengan lubang besar di PTPN3 seluas 54,80 ha. Dengan jarak tanam 9,09 m x 8,33 m (132 pohon/ha), penanaman kelapa sawit dengan lubang besar terlebih dahulu lahan diolah tanpa olah tanah (TOT) kemudian pembuatan lubang dibuat dengan implementasi lapangan yaitu: 1. Ukuran lubang biasa : (0,6 x 0,6 x 0,6) m, 2. Ukuran lubang besar : lubang I : (3,6 x 3,6 x 0,5) m, lubang II: (1,2 x 1,2 x 1,2) m 3. Ukuran lubang besar modifikasi: lubang I: (2,8 x 2,8 x 0,3 ) m lubang II:  (0,8 x 0,8 x 0,8) m atau lubang tanam dibuat dengan lubang I: (1,8 x 1,8 x 0,3) m dan lubang II: (0,8 x 0,8 x 0,8) m.
Pembuatan lubang dilakukan dengan cara yaitu tanah top soil (3,6 x 3,6 x 0,5) m diorek dan ditempatkan disebelah timur lubang dan tanah sub soil disebelah barat lubang, tkemudian tanah dibiarkan selama 21 hari, tanah top soil diisi ke dalam lubang ukuran (1,2 x 12, 1,2) dengan pemperian pupuk dengan dosis pupuk per lubangnya yaitu pupuk Rock Phosphate (RP) : 2 kg/ pohon sedangkan tandan kosong kelapa sawit 300 – 350 Kg/pohon/tahun atau 100 kg kompos/pohon/tahun setelah penanaman.
Pertumbuhan awal tanaman di lapang sangat menentukan pertumbuhan selanjutnya. Pembuatan lubang tanam bertujuan mempercepat pertumbuhan bibit pada fase awal, sehingga tanaman tumbuh kekar dan kuat menghadapi cekaman lingkungan. Menurut Pahan (2007) Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan secara manual dan mekanis.  Sistem tanam yang diajurkan yaitu membuat lubang tanam 1 bulan sebelum tanam. Hal ini berujuan untuk mengurangi kemasaman tanah dan mengontrol ukuran lubang yang dibuat. Pengontrolan ukuran ini perlu dilakukan karena ukuran lubang merupakan salah satu aspek penting dalam perkebunan kelapa sawit. Selain untuk meletakkan bibit di lapangan, pembuatan lubang tanam juga bertujuan untuk menggemburkan struktur tanah sehingga penyerapan unsur hara yang diberikan (pupuk) menjadi lebih cepat dan mudah tersedia bagi tanaman.
Selain itu juga dampak teknis dari pembuatan lubang besar yaitu kerukan sedalam 30 – 50 cm, merupakan suatu penompang yang dapat menahan air hujan, daerah tebar pupuk tersedia, sehingga kemungkinan kehilangan pupuk relatif kecil, dengan lubang tanam yang seluruhnya diisi dengan top soil, sehingga akar tumbuh lebih cepat, pengapan air tanah berkurang selain itu juga adanya tambahan unsur hara dari tandan kosong/kompos akan menambah pertumbuhan tanaman. Menurut Munar (2006), tanah yang diaplikasikan kompos TKS meningkat pH nya dari 5,79 menjadi 6, 63 bila diberi kompos TKS selain itu kompos TKS juga dapat meningkatkan  C organic tanah.
Dari grafik dapat dilhat bahwa produksi kelapa sawit lebih tinggi bila dibandingkan dengan pola tanam biasa. Hal ini menujukan bahwa pengunaan pola tanam dengan lubang besar sangatlah efektif  selain itu juga pemberian TKS juga sangat mempengaruhi produksi kelapa sawit dimana TKS mampu memberikan bahan organik tanah.

Kesimpulan
            Penanaman kelapan sawit dengan lubang besar dapat meningkatkan produksi kelapa sawit, pemberian TKS juga sangat mempengaruhi produksi kelapa sawit karena pengunaan lubang besar dan pemberian TKS dapat miningkatkan kesuburan tanah

Daftar pustaka
Darmansyah, 2008. Value Engineering  Perkebunan  Kelapa Sawit. PT. Nan Tembo Consultant
Ginting, J. 1975. Bercocok Tanam Kelapa Sawit dan Pengolahan Hasilnya. S.P.M.A. Medan.
Munar, A. 2008. Pemberian Kompos TKS Plus dan Efisiensi Pupuk Organik dalam Meningkatkan Produksi Kedelai (Glycine max L). J. Agrium (submitted).
Rinsema, W. T. 1988. Pupuk dan Cara Pemupukan. Karya Aksara. Jakarta.
Pahan, I. 2007. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta.

1 komentar: